Jakarta a�� Wawancara singkat dengan Bapak Himawan Arief Sugoto selaku Direktur Utama Perum Perumnas di Bloomberg TV Indonesia menyoroti efektifitas kinerja Perumnas dengan menyiapkan 2 anak perusahaannya, yaitu PT Propernas Griya Utama dan PT Propernas Nusa Dua untuk melantai di bursa. Berikut adalah beberapa petikan wawancara yang dapat dirangkum.

Pada saat ditanya apakah Perumnas akan bertransformasi dari Perum, berikut adalah tanggapan Bapak Himawan, bahwa Perumnas sampai saat sekarang masih satu-satunya institusi yang menyediakan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), dengan harapan Perumnas dapat berkontribusi sebagai penyedia perumahan sebagai kebutuhan pokok. Perumahan sebagai kebutuhan pokok berarti bukan merupakan suatu investasi, dimana harga terjangkau merupakan faktor kunci, sehingga tidak bisa dilepas pada swasta. Dengan konsep itulah maka Perumnas masih berada dalam posisi nya sebagai perum dengan harapan tetap menyasar pada MBR, tidak bergeser pada profit oriented seperti yang kerap dilakukan sebuah persero.

Pada saat disinggung mengenai keberpihakan Perumnas dalam menyediakan subsidi perumahan. Bapak Direktur Utama menjelaskan bahwa delivery system pada sektor perumahan harus menyeimbangkan antara demand dan supply side. Pemerintah telah melakukan strategi yang baik di sisi demand side yaitu dengan mencanangkan KPR bersubsidi, namun perlu juga diperhatikan di sisi supply. Dulu sebetulnya pemerintah sudah memikirkan hal itu dengan memberdayakan Perumnas. Perumnas tidak mungkin memberikan subsidi karena domainnya adalah korporasi. Subsidi seharusnya berangkat dari APBN, dimana instrumen tersebut tidak didapatkan oleh Perumnas. Sehingga terjadi kejanggalan, dimana Perumnas sebagai penyedia perumahan bagi MBR namun melalui mekanisme common business. Dengan potret tersebut diharapkan pemerintah dapat menstabilisasi harga rumah yang tidak terkerek naik, dengan melakukan intervensi dari sisi supply yaitu lahan, infrastuktur dan konstruksi. Karena bagaimanapun pembenahan di sisi demand, tidak akan tercapai daya beli masyarakat akan perumahan tanpa adanya pembenahan di sisi supply. Saat sekarang Perumnas sedang menyuarakan ke pemerintah agar peran Perumnas diberdayakan, di sisi supply.

Membicarakan mengenai pengalokasian Hutang Jangka Menengah yang akan didapatkan di bulan April ini, berikut adalah penegasan Bapak Himawan,

Bahwa Perumnas diperlakukan oleh Pemerintah tidak ada bedanya dengan pelaku swasta, tidak ada satu perakpun yang mengucur ke Perumnas dari tahun 1993, sehingga merupakan beban sosial bagi Perumnas untuk menyediakan rumah rakyat tetapi secara perilaku Perumnas harus melakukan pinjaman secara komersial untuk menambah capex nya. Sebetulnya ada yang tidak pas disini, karena untuk mengemban misi kami yang berfokus pada penyediaan rumah ke segmen menengah bawah, tetapi dengan mendapatkan pendanaan dari komersial. Kami juga mendorong anak perusahaan sebagai pem balance kami sebagai penyedia rumah bagi masyarakat menengah bawah. Jadi kami mendorong mereka untuk melakukan properti komersial.

Membicarakan mengenai strategi Perumnas kedepan, salah satunya melalui anak perusahaannya, berikut pemaparan Bpk Direktur Utama,

Dengan Indonesia Baru, peran Perumnas sebagai National Housing Agency diharapkan akan kembali diberdayakan, dimana akan membangun di lebih dari 1000 titik dari sabang sampai marauke, atau lebih dari 400 kota yang dikembangkan. Tidak ada satu institusi pun di Indonesia yang memiliki kemampuan delivery seperti Perumnas. Tinggal bagaimana mesin ini dimaksimalkan kembali, sehingga Perumnas dapat menyediakan supply nasional yang cukup besar. Kedepannya anak perusahaan Perumnas akan disiapkan untuk go public di tahun 2018. Hal ini untuk mendorong kinerja Perumnas kedepannya sebagai penyedia perumahan rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *