MoU PNM Askrindo

Sebelum gong pembentukan Holding BUMN dibunyikan, Perum Perumnas selalu mendukung dan turut andil dalam merealisasikan sinergisitas antar-BUMN. Dari waktu ke waktu perusahaan yang intens di bidang perumahan ini kerap melakukan kerja sama dalam berbagai Nota Kesepahaman (MoU). Hal ini tak lain dilakukan untuk mendukung pembangunan beberapa proyek strategis yang akan dan sudah dikerjakan Perumnas, sehingga dapat mendorong capaian target perusahaan.

Kali ini, Perumnas menggandeng PT (Persero) Asuransi Kredit Indonesia dan PT PNM Investment Management dalam mengoptimalkan peluang bisnis masingmasing perusahaan. Selain itu, kerja sama ini juga tidak lain bertujuan untuk memberikan nilai tambah saling menguntungkan satu sama lain. Lembar baru perjanjian kerja sama ini dihadiri oleh Direktur Keuangan Askrindo, T. Widya Kuntarto, kemudian Direktur Utama PNM, M. Q. Gunadi, dan Direktur Keuangan dan SDM Perumnas, Hakiki Sudrajat di Jakarta, akhir April lalu.

Adapun kerja sama ini lahir karena semakin ketatnya persaingan bisnis saat ini. Perumnas hingga saat ini terus menunjukkan komitmen dalam menjalankan visi misi, khususnya di bidang properti dan penyediaan perumahan bagi rakyat. Program pembangunan satu juta rumah menjadi salah satu prioritas Perumnas dalam memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Terkait peningkatan persaingan bisnis tadi, Perumnas pun mengembangkan berbagai ragam format produk agar tetap bisa diterima pasar. Seperti diketahui, permintaan dan tren pasar terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman. Dengan modal dan pengalaman yang tinggi, tentu Perumnas tak mau ketinggalandengan membangun sinergi atau kemitraan bisnis dengan sesame BUMN.

Kerja sama antar-BUMN ini sendiri diharapkan dapat segera mendorong percepatan pembangunan. Terlebih proyek-proyek strategis Perumnas kini tak hanya hunian tapak saja, tetapi juga sudah bermain di hunian vertikal. Keterbatasan di lahan-lahan perkotaan dan pusat administrasi negara saling kejar-kejaran dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Artinya pembangunan rumah susun yang dilakukan Perumnas memang sudah sangat diharapkan demi memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat banyak, terutama yang berpenghasilan rendah.

Maka dari itu, segala bentuk kerja sama termasuk MoU ini memiliki peran yang tak remeh, karena menyangkut kebutuhan orang banyak. Selain percepatan, angka backlog sekaligus misi Program Sejuta Rumah pun jadi bisa terkejar.

Salah satu yang memerlukan percepatan itu tentu saja pada angka permukiman kumuh dan tidak layak huni di kota-kota besar. Sudah jadi keprihatinan bersama bahwa angka ini jadi masalah yang masih belum terpecahkan. Kini, Perumnas giat menggencarkan hunian vertikal, sebagai jawaban dari permasalahan tersebut. Hal ini pun harus segera dilakukan untuk menghindari semakin luasnya kawasan kumuh yang ada di Indonesia, serta untuk menyediakan rumah yang layak huni bagi masyarakat.

Selain itu, backlog perumahan yang mencapai angka 15 juta dan pemenuhan suplai perumahan yang hanya mencapai 150 ribu unit/ tahun merupakan ketimpangan yang kerap kali didengungkan di sektor perumahan dan pemukiman di Indonesia. Berbagai skema kebijakan digelontorkan pemerintah guna untuk menyeimbangkan jumlah tersebut, salah satunya dengan kebijakan KPR bersubsidi. Namun hal itu memiliki dampak yang tidak signifikan dalam mengerem laju ketimpangan antara jumlah permintaan dan pasokan rumah yang dapat dipenuhi oleh pengembang.

Pemerintah harus terus menerus mencermati rumah sebagai kebutuhan pokok, tidak dilepas pada mekanisme pasar, sehingga berimbas positif pada harga jual rumah yang semakin terjangkau bagi MBR. Ketersediaan infrastruktur yang memadai, pemenuhan keterbatasan lahan dan pengendalian harga konstruksi merupakan beberapa elemen penting dalam pembentukan delivery system yang tepat untuk pemenuhan permintaan akan perumahan di Indonesia.

Untuk itu, banyaknya proyek strategis yang akan diluncurkan, khususnya dalam rangka mewujudkan Program Satu Juta Rumah tadi, memacu Perumnas untuk semakin intensif berpartisipasi dalam penyediaan rumah. Peliknya, menyediakan perumahan layak huni dengan harga terjangkau tak semudah yang dibayangkan. Biaya yang makin tinggi dalam pembuatannya kerap jadi batu kerikil yang licin yang bisa membuat jatuh raksasa sekalipun.

Artinya, dukungan finansial memegang porsi utama demi terlaksananya semua proyek yang sudah terencana. Selain itu, keterlibatan aktif dan kerja sama dari semua pihak terkait tadi, termasuk BUMN yang terlibat dalam kerja sama ini, pun punya peranan besar dan sangat diperlukan. Tentu saja semua itu untuk mempercepat dampak positif atas kerja sama yang tengah digulirkan.

Harapannya, kerja sama seperti ini dapat terus dicontoh dan memicu perusahaan lainnya untuk mau ikut serta dalam memberi dukungan dalam bentuk apapun, tidak hanya terbatas instrumen keuangan serupa. Bisa antar-BUMN, dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun perbankan dan institusi lainnya.