Program rumah subsidiA�yang digagas pemerintah sudah mulai berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Namun, hingga kini program tersebut masih terus mengalami penyesuaian demi tercapainya target perumahan murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Dibutuhkan kerjasama antara pemerintah, pihak bank, dan masyarakat untuk menyukseskan program rumah subsidiA�agar tepat sasaran. Beberapa tantangan berikut ini wajib segera dituntaskan agar manfaat pelaksanaan program tersebut bisa dirasakan kalangan MBR yang membutuhkan.

  • Ketersediaan Lahan

Ketersediaan lahan untuk membangun perumahan murah kian menipis. Lahan yang ada saat ini sudah dimanfaatkan untuk bangunan perkantoran, pusat perbelanjaan, dan ruang terbuka hijau (RTH). Proses pembangunan perumahan murah pun hingga kini masih mengalami keterbatasan. Karena itu, dibutuhkan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah (pemda) untuk menyukseskan pembangunan perumahan murah dalam beberapa tahun mendatang.

  • Informasi Tata Ruang

Sebagian besar pemda di Indonesia masih belum bisa memberikan gambaran jelas mengenai sistem tata ruang kota. Hal ini mengakibatkan proses pembangunan rumah subsidi terhambat dan kurang memperhatikan pengelolaan tata ruang yang baik. Pendataan secara rinci mengenai konsep tata ruang kota akan membantu kelancaran rencana pembangunan rumah subsidi di sejumlah daerah di Indonesia.

  • Harga Tidak Seragam

Harga perumahan murah di setiap daerah tentu tidak sama. Ini karena penetapan harga ini bergantung dari material, harga pasaran, serta dukungan pemda. Di Papua, setiap unit rumah dari Program Sejuta Rumah dibanderol dengan harga mulai Rp 183 juta. Hal ini terjadi karena proses distribusi material bangunan rumah ke Papua tergolong mahal dan ikut memengaruhi harga jual rumah. Padahal, kondisi pendapatan MBR di Papua tergolong lebih rendah daripada MBR di pulau-pulau lain.

Baca Juga :A�Cara Mendapatkan Info Rumah Subsidi Murah

  • Aturan Ketat dari Bank

Bank yang bekerja sama dengan Program Sejuta Rumah harus berusaha keras mempertahankan nilai NPL-nya (Non-Performing Loan). NPL yang bermasalah karena urusan kredit tak lancar memengaruhi kualitas penilaian bank secara keseluruhan.

Itulah sebabnya sebagian besar bank masih memberlakukan aturan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) yang ketat. Belum banyak bank yang bekerja sama menyukseskan Program Sejuta Rumah karena mempertimbangkan nilai NPL.

  • Adanya Pihak yang Memanfaatkan Rumah Murah

Sejumlah pihak tidak bertanggung jawab dan memanfaatkan rumah murah sebagai objek investasi turut memperkeruh suasana. Pihak-pihak ini biasanya membeli rumah dengan harga murah untuk kemudian menjualnya kembali dalam 1-2 tahun setelah harganya naik.

Ini menyebabkan masih banyaknya MBR yang kehilangan kesempatan memiliki rumah murah. Tampaknya sosialisasi dan pelaksanaan Program Sejuta Rumah patut diawasi dengan ketat agar benar-benar memfasilitasi MBR yang membutuhkan.

Sumber:

economy.okezone.com/read/2016/09/01/470/1478597/di-daerah-kinerja-penjualan-rumah-masih-terhambat-perizinan

economy.okezone.com/read/2016/09/02/470/1479657/rumah-subsidi-di-papua-dipatok-mulai-rp183-juta

economy.okezone.com/read/2016/09/01/470/1478411/ketatnya-aturan-bank-ganjal-masyarakat-informal-beli-rumah