KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perum Perumnas tengah mengembangkan tiga proyek apartemen di kawasan stasiun kereta commuterline (KRL) dengan total 6.741 unit. Ketiga proyek yang diklaim berbasis transit oriented development (TOD) tersebut mengusung brand Mahaya.

Pertama, Perumnas mengembangkan Mahata Tanjung Barat di Stasiun Tanjung Barat sebanyak 1.232 unit di lahan seluas 15.244 meter persegi (m2). Kedua, Mahata Margonda tengah dikembangkan di Stasiun Pondok Cina 3.693 unit di lahan 27.706 m2 dan ketiga Mahata Serpong di Stasiun Rawa Buntu ada tiga tower berkapasitas 1.816 unit.

Ketiga proyek yang dibangun di lahan Kereta Api Indonesia (KAI). Total investasi yang akan digelontorkan untuk membangun proyek apartemen stasiun tersebut mencapai Rp 1,9 triliun.

General Manager Pemasaran Perumnas mengungkapkan, status jumlah apartemen yang sudah terpesan di Mahata Tanjung Barat hingga saat ini telah mencapai 1.000 unit, Mahata Pondok Cina 800 unit, dan Mahata Serpong 600 unit.

“Untuk Tanjung Barat dan Pondok Cina yang terpesan adalah subsidi dan non subsidi. Sedangkan Serpong kami masih buka khusus untuk non subsidi terlebih dahulu.”Kata Dian pada Kontan.co.id, Senin (20/11)

Namun, Dian tidak menyebutkan nilai penjualan yanh sudah diraup dari ketiga proyek itu. Hanya yang jelas, Mahata Tanjung Barat dan Mahata Margonda sudah dipasarkan sejak tahun 2017. Sedangkan Mahata Serpong baru dipasarkan tahun ini.

Mahata Margonda dipasarkan lebih dulu yakni sejak Perumnas menggelar seremoni groundbreaking atau peletakan batu pertama pada Agustus 2018. Namun, hingga saat ini perizinan proyek itu belum rampung. Menurut Dian, pihaknya mengharapkan proses perizinannya rampung akhir 2018 ini sehingga bisa dibangun pada awal 2019.

Padahal, peresmian groundbreaking proyek Mahata Tanjung Barat itu kala itu dilakukan tiga lintas kementerian sekaligus yakni Menteri BUMN, Menteri PUPR dan Menteri Perhubungan. Managemen Perumanas awalnya menargetkan, pembangunan proyek ini sudah rampung pada tahun 2019.

Adapun Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk Mahata Margonda dan Mahata Serpong telah didapat. Sehingga kedua proyek itu akan mulai konstruksi tahun ini.

Proyek Mahata Serpong sudah dipasarkan sejak September 2018, dengan harga non subsidi dimulai dari Rp 13,2 juta per m2 dan unit subsidi di harga Rp 7 jutaan per m2. Sementara Mahata Margona sudah dipasarkan sejak akhir 2017 dengan harga non subsidi mulai dari Rp 17 jutaan per m2 dan subsidi di harga Rp 7 jutaan per m2

Selain tiga proyek itu, Dian mengatakan, pihaknya masih akan terus mempelanjari pengembangan proyek baru. “Diantaranya proyek kerja sama dengan beberapa BUMN spt dengan Perum Damri, PT BGR dan Pertani,” kata Dian.

Sumber : Link