Berita Perumnas

 

 


- February 17, 2012


JAKARTA — Perum Perumnas mengaku produksi rumah yang dibangun perusahaan tidak terpengaruh oleh kekisruhan akibat penghentian penyaluran dana fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Rata-rata rumah yang dibanqun Perumnas berkisar 1.200 unit perbulan

 

Direktur Pemasaran Perum Perumnas Teddy Robinson mengatakan, Perumnas saat ini lebih banyak membangun ru­mah sejahtera berdasarkan ke­butuhan yang sudah disepakati dengan konsumen. "Jadi, pro­duksi kami tidak terpengaruh dengan kisruh FLPP itu," kata dia saat dihubungi Investor Daily Selasa (7/2).

Kendati demikian, dia men­gakui, pihaknya berusaha me­ngejar pembangunan sebagian rumah yang dipesan konsumen agar bisa rampung pada Maret atau April 2012. "Kami masih mengerjakan rumah-rumah tersebut. karena persyaratan mendapatkan FLPP rumah ha­rus sudah terbangun, sehingga kami mempercepat. Tapi, lagi­lagi kami tidak terpengaruh dengan kekisruhan itu," tandas Teddy.

Hingga saat ini, produksi ru­mah yang dibangun perusa­haan pelat merah tersebut ber­dasarkan kesepakatan dengan konsumen nencapai 13 ribu unit per tahun. Sedangkan produksi tiap bulan ditaksir mencapai 1.200 unit. "Jumlah tersebut masih bisa ditingkatkan menja­di dua hingga tiga kali lipat ber­dasarkan kebutuhan. Sebenarnya kami bisa produksi berapa pun," terang Teddy.

Sebelumnya, Asosiasi Pe­ngembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) mengaku sulit mem­produksi dan menjual rumah yang dibangun anggotanya aki­bat kekisruhan penetapan bu­nga FLPP. Asosiasi ini mem­prediksi produksi sekitar 20 ribu unit rumah dalam dua bulan akan terhenti akibat permasa­lahan tersebut.

Adapun nilai kerugian yang diderita pengembang ditaksir mencapai Rp 1,5 triliun dengan asumsi harga rumah sebesar Rp 70-80 juta per unit. Sedangkan kerugian materi di pengem­bang diperkirakan mencapai Rp 1-2 miliar per bulan, lantaran di­haruskan membayar bunga kredit konstruksi yang telah dicairkan perbankan.

 Secara terpisah, Direktur Utama Perum Perumnas Hi­mawan Arief Sugoto pernah mengatakan, pihaknya berniat membangun 15-20 ribu unit properti di tahun 2012. Unit-unit properti itu termasuk perumah­an, rumah, mal, dan apartemen. "Kami berharap mampu ba­ngun properti 15-20 ribu unit," katanya.

Perusahaan pelat merah ini menganggarkan belanja modal untuk berbagai proyek terse- but sekitar Rp 500-600 miliar. Namun, perkiraan belanja mo­dal ini masih bisa membengkak tergantung situasi, bahkan di­prediksi sampai Rp 1 triliun. "Sedangkan pendapatan di ta­hun ini ditargetkan sebesar Rp 1,2 triliun," ujar Himawan.

Kerja Sama Pemda

Guna mendukung langkah ini, lanjut Teddy, perusahaan akan gencar bekerja sama de­ngan berbagai pemerintah dae­rah (pemda) di seluruh Indone­sia. Kalendar kerja untuk mere­presentasikan program ini telah disusun dan akan dijalankan ke beberapa pemda. "Kami undang gubernur dan jajarannya terma­suk camat dan lainnya untuk program ini Kami akan mara­ton melakukan ini," tandas dia.

Dan hasil roadshowtersebut, kata Teddy, Perumnas tengah menjajaki kerja sama dengan pemda Jambi dan Riau. Adapun dengan Pemda Sofifi telah dise­pakati kerja sama membangun rumah sejahtera untuk pe­gawai negeri sipil (PNS). "Sofifi adalah ibu kota baru Maluku Utara. Tadinya di Ternate. Karena ibu kotanya pindah, mere­ka butuh tempat tinggal bagi pegawainya," kata dia.

Pemda Sofifi telah menyiapkan lahan seluas 20 hektare. Sebagai tahap pertama kerja sama de­ngan Perumnas, akan dibangun sekitar  500-1.000 unit rumah. "Sedangkan dengan Jambi dan Riau masih dijajaki. Kami belum bisa sebut berapa unit rumah­nya," imbuh dia. (ean)



« Back