
JAKARTA — Perum Perumnas mengaku produksi rumah yang dibangun perusahaan tidak terpengaruh oleh kekisruhan akibat penghentian penyaluran dana fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Rata-rata rumah yang dibanqun Perumnas berkisar 1.200 unit perbulan
Direktur Pemasaran Perum Perumnas Teddy Robinson mengatakan, Perumnas saat ini lebih banyak membangun rumah sejahtera berdasarkan kebutuhan yang sudah disepakati dengan konsumen. "Jadi, produksi kami tidak terpengaruh dengan kisruh FLPP itu," kata dia saat dihubungi Investor Daily Selasa (7/2).
Kendati demikian, dia mengakui, pihaknya berusaha mengejar pembangunan sebagian rumah yang dipesan konsumen agar bisa rampung pada Maret atau April 2012. "Kami masih mengerjakan rumah-rumah tersebut. karena persyaratan mendapatkan FLPP rumah harus sudah terbangun, sehingga kami mempercepat. Tapi, lagilagi kami tidak terpengaruh dengan kekisruhan itu," tandas Teddy.
Hingga saat ini, produksi rumah yang dibangun perusahaan pelat merah tersebut berdasarkan kesepakatan dengan konsumen nencapai 13 ribu unit per tahun. Sedangkan produksi tiap bulan ditaksir mencapai 1.200 unit. "Jumlah tersebut masih bisa ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali lipat berdasarkan kebutuhan. Sebenarnya kami bisa produksi berapa pun," terang Teddy.
Sebelumnya, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) mengaku sulit memproduksi dan menjual rumah yang dibangun anggotanya akibat kekisruhan penetapan bunga FLPP. Asosiasi ini memprediksi produksi sekitar 20 ribu unit rumah dalam dua bulan akan terhenti akibat permasalahan tersebut.
Adapun nilai kerugian yang diderita pengembang ditaksir mencapai Rp 1,5 triliun dengan asumsi harga rumah sebesar Rp 70-80 juta per unit. Sedangkan kerugian materi di pengembang diperkirakan mencapai Rp 1-2 miliar per bulan, lantaran diharuskan membayar bunga kredit konstruksi yang telah dicairkan perbankan.
Secara terpisah, Direktur Utama Perum Perumnas Himawan Arief Sugoto pernah mengatakan, pihaknya berniat membangun 15-20 ribu unit properti di tahun 2012. Unit-unit properti itu termasuk perumahan, rumah, mal, dan apartemen. "Kami berharap mampu bangun properti 15-20 ribu unit," katanya.
Perusahaan pelat merah ini menganggarkan belanja modal untuk berbagai proyek terse- but sekitar Rp 500-600 miliar. Namun, perkiraan belanja modal ini masih bisa membengkak tergantung situasi, bahkan diprediksi sampai Rp 1 triliun. "Sedangkan pendapatan di tahun ini ditargetkan sebesar Rp 1,2 triliun," ujar Himawan.
Kerja Sama Pemda
Guna mendukung langkah ini, lanjut Teddy, perusahaan akan gencar bekerja sama dengan berbagai pemerintah daerah (pemda) di seluruh Indonesia. Kalendar kerja untuk merepresentasikan program ini telah disusun dan akan dijalankan ke beberapa pemda. "Kami undang gubernur dan jajarannya termasuk camat dan lainnya untuk program ini Kami akan maraton melakukan ini," tandas dia.
Dan hasil roadshowtersebut, kata Teddy, Perumnas tengah menjajaki kerja sama dengan pemda Jambi dan Riau. Adapun dengan Pemda Sofifi telah disepakati kerja sama membangun rumah sejahtera untuk pegawai negeri sipil (PNS). "Sofifi adalah ibu kota baru Maluku Utara. Tadinya di Ternate. Karena ibu kotanya pindah, mereka butuh tempat tinggal bagi pegawainya," kata dia.
Pemda Sofifi telah menyiapkan lahan seluas 20 hektare. Sebagai tahap pertama kerja sama dengan Perumnas, akan dibangun sekitar 500-1.000 unit rumah. "Sedangkan dengan Jambi dan Riau masih dijajaki. Kami belum bisa sebut berapa unit rumahnya," imbuh dia. (ean)