JEPARA – Kawasan lereng Pegunungan Muria yang ada di Desa Plajan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah diproyeksikan menjadi wisata edukasi dan sentra agrowisata. Selain untuk penghijauan dan mengantisipasi bencana alam, langkah tersebut juga untuk proses belajar peduli lingkungan dan mendongkrak perekonomian masyarakat melalui aktivitas wisata.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan penanaman 10.500 bibit pohon sengon laut, matoa, manggis dan kelapa kopyor di lahan kosong seluas 10 hektare yang ada di lereng Gunung Muria Desa Plajan. Kegiatan ini merupakan kerjasama dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Akar Seribu dengan Perum Perumnas dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero). 

Kepala Balai Pengelolaan Hutan (BPH) II Pati Dinas Kehutanan Provinsi Jateng Misbahul Munir mengapresiasi dukungan dari dunia usaha yang mengalokasikan dana CSR untuk kegiatan bina lingkungan. Kegiatan ini membantu progam Jateng Ijo Royo – Royo yang digencarkan Pemprov Jateng.

“Dukungan dari dua BUMN ini sangat kita apresiasi. Kita sebelumnya sudah melakukan identifikasi berbagai jenis pepohonan di kawasan Akar Seribu ini, jadi pelajar bisa belajar dari itu juga. Kegiatan ini melengkapi itu jadi mempunyai banyak manfaat baik untuk lingkungan maupun masyarakat sekitar,” jelas Misbahul Munir, di kawasan Akar Seribu, Desa Plajan, Jepara, Sabtu (16/12/2017).

Kawasan Akar Seribu dalam setahun terakhir ini dikenal ‎dengan wisata alam. Berbagai pepohonan tumbuh di kawasan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal. Terlebih juga ada koleksi baru berupa kebun binatang mini yang dihuni sejumlah satwa liar.

Manager Departemen Unit Khusus PK & BL Perum Perumnas Rini Isrofiyah mengatakan, kegiatan ini bagian dari tanggung jawab sosial bina lingkungan BUMN. Saat ini, pohon yang ditanam diarahkan yang bisa bermanfaat secara ekonomi. Namun ke depan, pihaknya juga bisa mengarahkan untuk pohon-pohon langka sehingga dapat dimaksimalkan untuk edukasi para pelajar.

“Prinsipnya yang penting ada manfaatnya dan progam itu berkelanjutan. Kita bisa sinergi dengan pemerintah daerah, BUMN maupun pihak-pihak lainnya,” terang Rini.

Sementara itu, Direktur PNM, Arief Mulyadi mengatakan kondisi lahan lereng Gunung Muria rawan erosi dan longsor jika tak dikelola dengan maksimal. Karena kondisi lahan bergelombang dan berbukit dengan ketinggian lahan antara 300-700 meter dari permukaan laut. Pihaknya berharap pengelolaan hutan dengan pola agroforesty ini bisa meningkatkan keterampilan, kesejahteraan dan membuka lapangan pekerjaan baru.  

“Kendala yang dihadapi petani adalah keterbatasan ekonomi untuk pembelian kebutuhan agroforesty seperti pembelian bibit, pupuk dan tenaga kerja. Makanya kita bantu itu,” tandasnya.

 

Sumber : Sindonews