Kupas Tuntas Hunian vertikal

Tak ada yang bisa menampik bahwa isu soal kebutuhan hunian sudah menjadi masalah nasional. Di sisi lain, para pelaku properti sebenarnya juga sudah banyak bermunculan, lantaran memang menjadi bisnis menggiurkan. Seiring dengan itu, tingkat persaingan pun kini sudah sangat ketat nan dinamis. Satu sama lain saling menawarkan beragam untuk pilihan terbaik.

Namun ada kenyataan lain yang menjadi problema. Ketersediaan tanah kini makin sedikit, terutama untuk wilayah perkotaan. Walhasil persaingan harga tanah di beberapa lokasi strategis juga jadi semakin ketat. Sehingga barangsiapa yang memiliki inovasi, dialah pemenangnya. Nah, salah satu inovasi itu adalah hunian vertikal.

Fenomena tren hunian vertikal ini pun jadi bahasan paling favorit di kalangan pelaku properti. Berangkat dari situlah Perumnas lewat salah satu program Afternoon Tea kali ini menggelar acara diskusi bersama untuk membahas soal hunian vertikal yang diadakan pada Minggu kedua April ini di Wisma Perumnas, Jakarta. Benar saja. Acara yang mengusung gaya gathering dan mengobrol santai ini mampu menyedot banyak perhatian, utamanya karyawan Perumnas. Ana Kunti Pratiwi, seorang expert di bidang hunian vertikal pun menyambut antusiasme para karyawan. Bersama Adhitya Wisnu Wardhana selaku Executive Advisor Divisi PMO, keduanya mengupas habis isu-isu hangat seperti pelaksanaan proyek high rise building dan lainnya.

Dalam suasana santai dan penuh rasa optimistis, disampaikan bahwa dalam perencanaan pembangunan perumahan memang perlu diadakan semacam riset terlebih dahulu. Salah satu indikasinya tentu saja karena faktor keterbatasan lahan dan harga tanah yang semakin mahal. Dari situlah lahir satu inovasi sekaligus tren baru, yakni hunian vertikal.

Hal ini pun sedang hangat di internal Perumnas. Sebagai perusahaan berpengalaman yang intens bergerak dalam penyediaan rumah pada format hunian tapak, Perumnas dinilai tahu betul apa yang sekarang diinginkan pasar. Di acara ini pula, pembahasan mengenai strategi Perumnas memenuhi tuntutan diversifikasi produk pada format vertikal dikupas.

Dari mulai analisa pasar mengenai format hunian vertikal serta beberapa faktor komprehensif seperti struktur bangunan, desain rancangan, dan proses perizinan jadi menu utama dalam sesi Afternoon Tea saat itu. “Karena market saat ini cukup beragam dan semakin bersaing, maka faktor-faktor tersebut pun perlu diperhatikan agar menghasilkan produk unggulan yang dapat bersaing dengan lainnya. Terlebih apakah produk yang dibangun ini berupa kantor, apartemen, rusun, komersil, ataupun gabungan lainnya, juga harus diperhatikan batas ruang publik dan pribadi,” ujar Kunti di sela pengantarnya.

Senada dengan Kunti, Adhitya lantas menambahkan mengenai beberapa teknis dan poin penting lainnya terkait pembangunan hunian vertikal. Lebih lanjut, keduanya lalu mengangkat soal high rise development yang lebih menekankan pada pemanfaatan ruang atau program ruang. “Akan semakin bagus apabila fasilitas, penunjang, dan unit pun lengkap. Baik itu fasilitas parkir, fasilitas komersil, ataupun penunjang fasos dan fasum, serta utilitas yang lengkap lainnya,” sambung Kunti.

Ya, keseluruhan hal tersebut memang perlu direncanakan dan dirancang sematang mungkin. Hal ini dimaksudkan untuk dapat meminimalisasi biaya yang dapat timbul dari pembangunan sebuah proyek. Di sisi lain biaya produksi hunian vertikal memang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sehingga, tentunya membutuhkan perencanaan yang matang agar menghasilkan harga rumah yang murah, namun kualitas produk yang dihasilkan bagus dan unggul.

Tren ini pun tak luput dari perhatian Pemerintah. Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah menyatakan mendorong pengembang untuk mulai membangun hunian vertikal lantaran minimnya lahan. Dibahas pula keinginan pemerintah pada pemerataan berimbang sehingga bisa meminimalkan angka kesenjangan hunian yang semakin menjadi. Sebab pada dasarnya, hunian kini tak ubahnya kebutuhan pokok yang akan berimbas ke kemiskinan bila tak jua teratasi.

Memanfaatkan momentum seperti ini, karyawan Perumnas yang hadir pun menanggapi dengan beberapa pertanyaan dan diskusi menarik. Pada akhirnya, Afternoon Tea kali ini memang diharapkan tidak hanya menambah wawasan teori, tapi dapat direalisasikan di lapangan.