Perum Perumnas mendorong pembangunan hunian yang lebih dekat ke arah perkotaan. Sebab, kota menjadi pusat bagi masyarakat dalam mencari nafkah.

Akibat jarak dari rumah menuju tempat kerja yang terlampau jauh, tenaga kerja menjadi tak begitu produktif karena waktunya banyak terbuang di jalan akibat terkena kemacetan.

“Dengan pertimbangan itu, Perumnas saat ini banyak mendorong rumah MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) tapi di kota, dalam bentuk rusun (rumah susun) di berbagai kota di Indonesia,” kata Direktur Pemasaran Perumnas Muhammad Nawir dalam diskusi ‘Kupas Tuntas Dua Tahun Program Sejuta Rumah’ di Jakarta.

Penyediaan hunian di kota yang khususnya diperuntukkan MBR, dilatarbelakangi kemampuan MBR yang selama ini memaksa mereka harus mencari tempat tinggal yang jauh dari kota karena mahalnya harga hunian di sana.

“Latar belakang pembangunan rusun, rusun MBR untuk MBR perlu dibangun dan harus jadi konsen pemerintah karena pembangunan landed house (rumah tapak) tadi semakin jauh dan banyak kendala dan lahan semakin mahal,” terangnya.

Menurutnya, MBR berhak memperoleh tempat tinggal yang dekat dengan kota atau pusat kegiatan bisnis. Sebab, mayoritas mereka mencari nafkah di daerah tersebut.

“Bahwa penting MBR kembali ke tengah kota. Bagaimanapun juga saya tunjukkan 60% masyarakat Indonesia tinggal di urban, makin padat lahan kota, sangat mahal di kota,” lanjut dia.

Lalu bagaimana tanggapan masyarakat terkait hal ini. Apa saran masyarakat untuk pemerintah. Berikut KATA MEREKA :

1. Muhammad Ridwan (23 Tahun) Mahasiswa

Siapa sih yang enggak mau rumah murah, apalagi letaknya dekat dengan perkotaan. Cocok ya karena masih bisa terjangkau sekalipun masyarakat berpenghasilan rendah. Di tengah Jakarta itu yang saya tahu minimal Rp500 juta itu pun sulit nyarinya. Yang paling utama itu air bersih dan listrik dan tentunya bebas banjir.

2. Sendy Ariani (25 Tahun) Karyawan Swasta

Tentu kalau ditawari saya pasti mau letak di kota besar harga murah siapa yang akan nolak. Kalau harganya seperti rumah murah yang katanya di kisaran seratus juta menurut saya masih terjangkau ya. Sudah mahal ya kalau di Jakarta bisa sampai miliaran. Yang paling penting itu akses jalan, air bersih dan jangan kumuh.

3. Risma Sari (27 Tahun) Karyawan Swasta

Iya mau dong tapi juga kalau saya harus liat rumahnya seperti apa dulu. Asalkan harganya di bawah Rp200 jutaan menurut saya sih cocok ya sudah sesuai sama masyarakat dengan penghasilan rendah. Waduh kalau di Jakarta sudah miliaran rupiah. Asal bersih akses jelas, air bersih, listrik juga menurut saya itu sudah bagus.

4. Faizal Ari Saputra (24 Tahun) Karyawan Swasta

Mau asal biaya murah DP ringan cicilannya juga ringan saya mau. Karena susah nyari rumah di Jakarta. Kalau kemarin-kemarin dengar harganya sih cocok ya menurut saya. Untuk di Jakarta khususnya pusat itu sudah miliaran ya kalau di pinggirannya mungkin ratusan juta dapat ya. Aksesnya mudah dan bebas banjir sih yang paling penting dan jangan kumuh.

5. Gina Purwanti (23 Tahun) Karyawan Swasta

Asal mudah, biaya murah saya mau sih. Karena lumayan kalau ada rumah subsidi dan otomatis murah. Cocok sih menurut saya harga segitumencakup semua kalangan.

Saya kurang tahu pasti tapi mungkin sudah miliaran rupiah harganya ya kalau di Jakarta. Airnya bersih, lingkungannya aman maksudnya bebas banjir dan aksi kejahatan, lalu airnya lancar.