Rencana memiliki rumah kerap dianggap mustahil bagi sebagian orang. Padahal, kini prosedur membeli rumah KPR semakin mudah. Tak cuma membidik kalangan menengah-atas, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) pun kian dipermudah dengan proses KPR yang praktis.

Perbedaan KPR Biasa dan Syariah

Selain mempelajari syarat-syarat umum KPR, Sahabat Perumnas juga wajib mengenali aneka jenis KPR di Indonesia. Kini ada dua jenis KPR yang paling sering diajukan ketika membeli rumah yaitu KPR biasa dan KPR syariah. Apa sih perbedaan antara KPR biasa dan syariah?

  • Jenis Akad Kredit

KPR biasa yang dikenal juga dengan sebutan KPR konvensional hanya memiliki satu jenis akad, yaitu akad jual-beli. KPR syariah justru memiliki beberapa jenis akad yaitu Murabahah (jual-beli), Musyarakah Mutanaqishah (kepemilikan bertahap), Ijarah (sewa), dan Ijarah Muntahua Bittamlik (sewa-beli). Setiap jenis akad pada KPR Syariah tentu memiliki ketentuan yang bisa dipilih sesuai kebutuhan.

Di antara empat jenis akad KPR Syariah, masyarakat paling sering memanfaatkan Murabahah untuk memiliki rumah KPR. Dalam jenis akad ini, bank membayar rumah kepada pihak pengembang setelah dikurangi DP (down payment) atau uang muka. Bank kemudian akan mendapatkan margin dan Sahabat Perumnas diwajibkan membayar biaya yang sudah dibayarkan oleh bank beserta perhitungan marginnya.

Baca Juga :A�Inilah Syarat Mendapatkan Rumah KPR Subsidi

  • Besaran Suku Bunga

Umumnya KPR konvensional mengalami besaran suku bunga yang fluktuatif. Pembayaran angsuran dengan jumlah yang sama hanya berlaku untuk satu hingga tiga tahun saja. Bisa juga angsuran flat selama masa angsuran dengan menggunakan sistem perhitungan bunga campuran.

Berbeda dengan KPR konvensional, besaran suku bunga pada KPR Syariah tidak berubah sejak penandatanganan akad kredit. Hal inilah yang membuat jumlah angsuran pada jenis KPR ini selalu flat dari awal hingga akhir.

  • Ada Tidaknya Penalti KPR

Secara harfiah penalti diartikan sebagai hukuman atau denda akibat kelalaian terhadap suatu peraturan berlaku. Pada KPR konvensional, penalti akan diberlakukan bagi Sahabat Perumnas yang ingin melunasi KPR sebelum masa angsuran selesai. Sistem penalti berupa kewajiban untuk membayar uang dalam nominal tertentu, sudah pasti membuat Sahabat Perumnas harus merogoh kocek lebih dalam.

Hal ini tidak akan terjadi dalam proses KPR syariah. Harga rumah KPR sudah ditetapkan sejak awal perjanjian jual-beli sehingga pelunasan KPR sebelum masa angsur selesai adalah hal yang wajar. Sahabat Perumnas pun tidak diharuskan membayar sejumlah penalti kepada pihak bank. Hal ini sangat baik untuk Sahabat Perumnas yang punya rezeki berlebih dan ingin segera melunasi KPR.

Informasi lebih lanjut tentang jenis KPR bisa Sahabat Perumnas dapatkan dengan bertanya langsung kepada pihak bank. Pengetahuan tentang jual-beli rumah secara KPR tentu akan membuat Sahabat Perumnas lebih terampil mengelola keuangan dan mencermati perjanjian jual-beli.

Sumber :

bisnis.news.viva.co.id/news/read/594116-ini-bedanya-kpr-syariah-dan-kpr-konvensional

properti.kompas.com/read/2013/05/10/11011061/tahu.keuntungannya.memilih.kpr.syariah.

economy.okezone.com/read/2016/06/07/470/1408485/kpr-syariah-vs-kpr-konvensional