Belakangan ini kerap terdengar istilah transit oriented development (TOD) yang dilontarkan pemerintah dan pengembang. Apa itu TOD? TOD adalah konsep pengembangan kawasan yang diintegrasikan dengan system transportasi massal, seperti bus rapit transit (BRT) atau busway, mass rapit transit (MRT), kereta api ringan (LRT), dan dilengkapi jaringan pejalan kaki/sepeda.

TOD mengakomodir beragam fungsi dalam pengembangan kawasan permukiman. Di dalam kawasan terdapat fungsi beragam dan tata ruang campuran, seperti zona bisnis, perkantoran, fasilitas umum, dan fasilitas sosial yang dihubungkan dengan transportasi umum. Orang dapat melakukan aktifitas dan memenuhi kebutuhannya dalam kawasan tanpa harus pergi ke kawasan lain. Konsep ini akan menekan jumlah perjalanan dan mengurangi mobilitas dengan kendaraan pribadi.

Konsep ini diadopsi dari Amerika Serikat (AS) yang mulai mencuat pada era 1960-an. Ini respon terhadap American Dream, yaitu orang tinggal di pinggiran kota dalam rumah besar dan ke mana-mana naik mobil.

“Tapi perjalanan American Dream ini membuat akses ke perkotaan menjadi macet sehingga orang kembali berhunian di perkotaan dengan fasilitas transportasi massal. Fenomena ini sekarang terjadi di sini (Jakarta dan sekitarnya) sehingga TOD dijadikann solusi seperti di negara maju,” ujar Herlambang, pengamat perkotaan dan realestat kepada housing-estate.com di Jakarta, Senin (13/3).

Konsep TOD akan mengurangi waktu terbuang sia-sia di perjalanan. Dengan menggunakan transportasi massal perjalanan menjadi lebih ringkas dan lebih banyak waktu yang dimanfaatkan bersama keluarga atau meningkatkan produktivitas kerja. Di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) perjalanan menuju tempat kerja dan sebaliknya menggunakan kendaraan pribadi rata-rata tiga jam. Karena itu penerapan konsep TOD sudah menjadi kebutuhan.

Herlambang menjelaskan, untuk menerapkan konsep TOD tidak terlalu susah. Yaitu di dalam kawasan harus tersedia jalur untuk pejalan kaki dan sepeda yang cukup nyaman. Pusat-pusat kegiatan tersambung dengan angkot, bus, kereta, atau moda lainnya. Keberhasilan konsep ini salah satu indikatornya apabila jumlah kendaraan yang parkir di fasilitas publik makin berkurang dan lalu lintas semakin lancar.

“TOD bukan sekadar fisik tapi juga lifestyle masyarakat. Pengembang yang mengembangkan TOD harus bisa melobi pemerintah agar konsep ini bisa menyentuh masyarakat miskin di perkotaan. Komitmen pemerintah sudah terlihat hanya sekarang belum terintegrasi,” imbuhnya.

Sumber : Housing-Estate.com