JAKARTA– BUMN perumahan, Perum Perumnas, dan tiga anak perusahaan BUMN, masing-masing PT PP Properti Tbk (PPRO), PT Wijaya Karya Realty (Wika Realty), serta PT Adhi Persada Properti kian agresif menggarap proyek properti, dari hunian tapak, hunian vertikal, hingga properti komersial. Tahun ini, mereka menggarap proyek properti senilai total Rp 64,97 triliun.

Selain agresif menggarap properti komersial, keempat pengembang itu terus membangun hunian bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Hunian yang ditawarkan mencakup rumah tapak dan rumah susun (rusun). Sedikitnya 37 ribu unit hunian bagi MBR disiapkan pada 2018.

Direktur Korporasi dan Pengembangan Bisnis Perumnas Galih Prahananto mengungkapkan, pasar properti menengah ke bawah masih sangat prospektif, baik hunian tapak maupun vertikal. “Propsek pasarnya masih bagus, tentu saja dengan produk dan lokasi yang harus tepat sasaran,” ujar Galih kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (25/1).

Itu sebabnya, menurut Galih, Perumnas membangun rumah susun (rusun) yang berdekatan dengan transportasi massal untuk konsumen di kota besar. Tujuannya agar mereka bisa berangkat ke tempat kerja dengan waktu singkat dan biaya murah. “Hunian-hunian seperti itu sangat dibutuhkan oleh MBR yang pasarnya masih sangat besar,” tutur dia.

Selain rusun, kata Galih Prahananto, Perumnas menyediakan rumah tapak di wilayah luar kota besar yang memiliki akses bagus dan tidak terlalu jauh. Misalnya di Dramaga Bogor, Paseh Cicalengka (Kabupaten Bandung), dan Parung Panjang (Kabupaten Bogor). “Proyek kami di Bogor direspons oleh pasar dengan sangat baik,” tegas dia.

Dia menjelaskan, Perumnas pada 2018 membangun sekitar 30 ribu hunian yang mencakup hunian vertikal dan rumah tapak. Untuk hunian rusun, komposisi bagi MBR berkisar 25-30%, sedangkan rumah tapak 25-75% tergantung lokasinya.

Galih menambahkan, nilai proyek yang digarap pengembang pelat merah ini mencapai Rp 26,97 triliun, termasuk proyek yang bersinergi dengan sesama BUMN/BUMD. Proyek itu di antaranya sinergi BUMN di Kalibata (Jakarta Selatan) yang berkapasitas sekitar 5.300 unit senilai Rp 3,3 triliun serta sinergi BUMD di Cempaka Putih (Jakarta Pusat) dan Grogol (Jakarta Barat) dengan kapasitas sekitar 5.000 unit setara Rp 1,5 triliun.

Sumber : beritasatu.com